Jumat, 17 Mei 2019

Kesenian Ronggeng Gunung Dan Ronggeng Amen


KEMBAR TAPI TAK SAMA

Ronggeng Gunung dan Ronggeng Amen

Telah dijelaskan pada artikel pertama mengenai Ronggeng Gunung kini penulis akan menjelaskan mengenai adik dari Ronggeng Gunung yakni Ronggeng Amen. Kenapa disebut adik dari Ronggeng Gunung ? Bila penasaran, simak penjelasannya dibawah yah !!!
Ronggeng Gunung kian hari kian berkurang peminatnya ini dikarenakan banyak orang yang menilai kesenian ini dengan kesan yang negatif, namun masih banyak faktor lain yang menjadi penghambat perkembangan dari kesenian Ronggeng Gunung,  untuk itu guna menarik minat kepada masyarakat Ciamis khususnya Ronggeng Gunung merubah fungsi dan isi dari pertunjukannya dengan mengkolaborasikan kesenian Ronggeng Gunung dengan kesenian lain.
Hal yang diperbaharui pada Ronggeng Amen ini diantaranya merubah fungsi yang tadinya bersifat ritual dengan menonjolkan kesan mistisnya kini pada ronggeng amen, kesan mistis tersebut hilang dang ronggeng amen ini bersifat hiburan. Meskipun pada ronggeng gunung juga ada bersifat hiburan tapi pada ronggeng amen ini full pertunjukanya untuk menghibur penonton sekalian.

Menurut Nina Herliana Lubis dalam tulisanya menyebutkan Ronggeng Amen disebut Ronggeng kidul karena berasal dari daerah kidul kabupaten Ciamis yaitu yang sekarang menjadi kabupaten Pangandaran, terciptanya Ronggeng Amen yaitu perpaduan dari kesenian Ronggeng Gunung dan Ronggeng Kaler.

Untuk kata "Amen" Disini menuru bahasa jawa kuno berarti menghibur. Dan kata amen juga diambil dari awal terbentuknya kesenian ini yaitu dari Mengamen dari kampung ke kampung dengan menarikan tari ronggeng, maka timbulah nama Ronggeng Amen. Sangat sesuai dengan fungsinya yang utama dari ronggeng amen ini yaitu untuk hiburan baik untuk acara hajat pernikahan, khitanan, ataupun acara syukuran lainya.

Kesenian ini lebih banyak diminati daripada Ronggeng Gunung hal itu dikarenakan Ronggeng Amen lebih bisa mengikuti zaman dibandingkan Ronggeng Gunung, dan pada kesenian Ronggeng Amen terdapat kebebasan, siapa saja wanit yang mau bergabung maka ia dapat menjadi ronggeng dengan latihan yang tidak seberat untuk menjadi Ronggeng pada kesenian Ronggeng Gunung yang mesti dilakukan proses yang sangat lama.

Untuk penyajian dari Ronggeng Amen ini berbeda sedikit dari Ronggeng Gunung yang biasanya pada Ronggeng Gunung, sinden biasa merangkap sebagai penari dan alat musiknya hanya menggunakan 3 waditra saja. nah pada Ronggeng amen sinden tidak merangkap jadi penari dan alat musiknya juga lebih meriah yaitu menggunakan seperangkat gamelan yang isinya terdapat alat musik seperti saron 1 dan 2, bonang, rincik, panerus, jenglong lanang, jenglong wadon, gambang, rebab dan kendang. Untuk lagu-lagu yang dinyanyikanya yaitu lagu-lagu Kiliningan dan lagu yang biasa dinyanyikan diantaranya yaitu lagu kosongan, jongrang, tonggeret dll.

Sedangkan untuk tarianya sama seperti Ronggeng Gunung yaitu pola lingkaran dengan penari yang dikelilingi oleh kaum laki-laki. Namun Ronggeng amen juga mengalami perubahan seiring berjalanya waktu guna untuk menyesuaikan kepada kebutuhan zaman sekarang. Perubahan tersebut diantara perubahanya yaitu dari segi kostum dan cara penyajianya hal ini disampailan oleh bapak Hendi pada tanggal 15 januari 2015. Adapun perbedan dari segi kostum pada zaman dahulu dan sekarang yaitu bisa dilihat kallau jaman dahulu penari hanya menggunakan apok sebagai penutup dada sedangkan sekarang sudah menggunakan baju kebaya dan rok panjang guna memudahlan gerak dan ada juga ibu-ibu yang mengenakan jilbab saat menari guna mencegah tindakan-tindakan negatif yang akan terjadi.

Grup dari kesenian Ronggeng Amen yang masih eksis sampai sekarang diantaranya yaitu grup " Cahaya Gumilang " Pimpinan bapak hendi yang telah berdiri sejak tahun 1980. Dan grup "Baranang Siang".

Sebagian masyarakat menyebut kesenian Ronggeng gunung, Ronggeng amen atau Ronggeng kaler dengan istilah Tayuban (Sujana, 2002:10). Penyebutan ini mungkin terkait dengan suatu kenyataan bahwa dalam acara Tayuban, penari pria menampilkan tarian yang bebas sekehendak hati namun harus sesuai dengan musik pengiring. Dahulu, arena Tayuban sering dij adikan sebagai tempat hiburan pribadi atau kalangenan menari dengan ronggeng, bahkan sering pula dibarengi dengan mabuk-mabukan. Arena Tayuban kadang kala menimbulkan ekses yang kurang baik yaitu adanya perilaku yang menyimpang dari norma dan etika agama (Sudarto, 2001:5)

Kesimpulan
Ronggeng Gunung maupun Ronggeng Amen merupakan kesenian asli dari Indonesia khususnya dari Jawa barat yang tidak menutup kemungkinan seiring berjalanya waktu bila kita tidak memperhatikan terhadap kesenian ini maka, lama-kelamaan kesenian ini akan hilang. Untuk itu penulis membuat ini guna menambah wawasan kepada masyarakat untuk lebih mengetahui terhadap kesenian Ronggeng diantaranya kesenian Ronggeng Amen ini supaya kita bisa bersama-sama menjaga dan melestarikan kebudayan dan kesenian tradisi asli Indonesia.

Referensi :
Buku dan jurnal
1. Caturwati, E. (2006). Perempuan dan Ronggeng di Tatar Sunda, Telaah Sejarah Budaya. Bandung: Pusat Kajian Lintas Budaya dan Pembangunan.
2. Lubis, H., N. & U. Darsa. (2015). Perkembangan Ronggeng sebagai Seni Tradisi di Kabupaten Pangandaran. Panggung 25 (1), 71-80.
3. Purwanti, D. (2017). Ibing Lulugu dalam Kesenian Ronggeng Amen Grup Baranang Siang. (Skripsi). Institut Seni dan Budaya Indonesia (ISBI) Bandung.

Dokumentasi
1. Etty S. Tahun 2008

Penulis
Rizki Syaepul Muhyidin
18123035

Kamis, 16 Mei 2019

Kesenian Bajidoran

Kesenian Bajidor


A. Sejarah kesenian bajidoran
  Pertumbuhan kesenian di awali di kabupaten Subang berawal sekitar tahun 1955. Dengan munculnya kerinduan mantan pamogoran (penggemar kesenian ketuk tilu, doger, tayuban dan tanjidor) untuk menari di pakalangan. Kerinduan itu disalurkan melalui pertunjukan wayang golek, mereka menari berpolakan tayuban dan ketuk tilu. Fenomena ini terjadi hingga tahun 1965.
  Pada tahun 1955-1965-an cara penonton meminta lagu pada pesinden menggunakan amplop tanpa diisi dengan uang, namun seiring dengan perkembangan zaman pada tahun 1957-an permintaan lagu pada pesinden atau juru kawih tidak lagi menggunakan amplop tetapi menggunakan tiiran yang berisi uang beserta kertas permintaan lagu yang ditancapkan di jagat (batang pisang) pada pertunjukan wayang golek.
  Perkembangan selanjutnya kegiatan menari dalam pertunjukan wayang golek dialihkan pada pertunjukan kiliningan-bajidoran, namun hal ini mengalami kefakuman karena adanya gejolak politik pada waktu itu. Bajidor mulai muncul lagi pada tahun 1970-an dengan lagu lagu yang terkenal pada waktu itu adalah Ekek paeh, Banondari, Ayun ambing, Coyor panon, Entog mulang, Gaplek dan lain lain. Cara membawakan lagu lagunya juru kawih mulai banyak menyebut nama nama orang penggemarnya atau para bajidoris. Atas dasar hal itu muncullah istilah lagu tilang ( lagu yang hampir semua bagian syair lagunya dipakai untuk menyebut nama nama orang). Jadi setiap orang yang disebut namanya oleh para juru kawih harus memberi uang jaban (cara memberikan uang dari para bajidor atau penggemar lainnya kepada juru kawih atau nayaga) sering disebut juga sebagai saweran.
 Di kabupaten Subang pada tahun 1980-an banyak bermunculan grup-grup kesenian bajidoran dengan sebutan jaipongan atau jaipong modern. Persaingan terus berjalan baik dari konteks pertunjukan, peralatan atau waditra yang di pakai maupun personil dari group tersebut. Tahun 1990-an volume pertunjukan bajidoran semakin semarak, sedangkan lagu lagu yang disajikan selain lagu sunda juga lagu lagu dangdut mulai di nyanyikan oleh pesinden /juru kawih.

B. Kehidupan Kesenian Bajidoran di Masyarakat
 Peristiwa hajat baik berupa hajat bumi (hajat kampung), hajat perkawinan maupun hajat khitanan merupakan hal penting bagi para group kesenian, karena pada dasarnya peristiwa tersebut tidak terlepas dari unsur hiburan. Di kabupaten Subang pada saat ini yang paling tinggi adalah pertunjukan kesenian bajidoran. Selain kabupaten subang, bajidoran juga berkembang di daerah lainnya seperti Bandung, karawang Purwakarta, Bekasi dan daerah lainnya. Berikut adalah nama nama sebagian group kesenian bajidoran di berbagai daerah Jawa Barat :
•Gileur kameumeut- Subang
•Layung group- Subang
•Cicih Cangkurileung group- Subang
•Robot group- Subang
•Putra mandiri jaya (PMJ)- Karawang
•Acep Dartam group- Karawang
•Gurat Khayon- Bandung
•Enok pelor group- Bandung
•Euis Walet- Purwakarta
•Melinda group- Bekasi


•Sinden Dalam Pertunjukan Bajidoran
 Secara historis sinden berasal dari ronggeng (penari wanita pada pertunjukan ketuk tilu, tayuban, doger, tanjidor) yang dalam perkembangan terakhir yaitu setelah adanya Wayang golek dan kiliningan, istilah ronggeng diganti dengan sebutan sinden.
Fungsi sinden atau juru kawih pada pertunjukan bajidoran menurut Suwarsih meliputi beberapa aspek, diantaranya selain mampu membeberkan lagu juga harus mampu membaca situasi daerah, mengetahui perkembangan zaman serta mengetahui selera penonton.
 Untuk memenuhi selera para penggemar bajidoran, juru kawih harus bisa melayani bermacam macam permintaan lagu baik lagu tradisi, wanda anyar maupun lagu lagu dangdut. Para juru kawih yang berjejer di atas panggung mempunyai tugas masing masing, ada yang menguasai tariannya saja, ada pula yang bertugas sebagai pembawa lagu lagu.
• Nayaga dalam pertunjukan bajidoran
 Nayaga disini berfungsi sebagai pemain alat musik atau waditra dalam kesenian bajidoran. Biasanya bajidoran menggunakan seperangkat alat gamelan dalam pertunjukannya, ada pula yang menggunakan alat modern seperti organ tunggal untuk mengiringi lagu lagu dangdut namun itu jarang digunakan. Alat musik atau waditra yang sangat menonjol dalam kesenian bajidoran adalah kendang karena kendang yang menentukan pola gerak para penari bajidor. Ada satu istilah nama tepakan kendang dengan sebutan tepak Gulinggeman sering dikenal juga sebagai gerakan mencug untuk penarinya, setiap lagu yang diakhiri dengan tepakan gulinggeman para bajidor yang sedang menari harus memberikan uang saweran.

C. Etika dan Estetika Kesenian Bajidoran
Menurut Dewan Kesenian Kota Bandung khususnya Komisi Tradisi, Abah Enjoem, dalam sebuah penyelenggaraan bajidoran terdapat pakem-pakem atau aturan aturan  yang harus diterapkan. Ketika si Bajidor (penari simpatisan) tampil di depan panggung dengan lagu yang dia ajukan, maka Bajidor yang lain tidak boleh turut serta, harus menunggu sampai selesai, Hal tersebut yang nantinya diharap akan menciptakan ketertiban saat pagelaran kesenian bajidoran berlangsung. Dan para bajidoris (penari simpatisan) melakukan tarian di bawah panggung bukan diatas panggung, karena di atas panggung di khususkan untuk para juru kawih dan nayaga.
Meski begitu, salah satu tokoh Abah Enjoem berpendapat bahwa kesenian bajidoran yang berkembang di daerah  Bandung dan kesenian jaipongan yang berkembang di daerah Subang serta Karawang, memiliki perbedaan yang sangat jelas. Jika kesenian bajidoran Subang dan Karawang masih menerapkan pakem yang telah dibentuk sejak kesenian tersebut ada, tetapi hal itu tidak diberlakukan dalam pagelaran kesenian bajidoran di kota Bandung. Maka, tak jarang jika pada saat kesenian bajidoran ini berlangsung berujung dengan keributan.
Kesenian bajidoran juga memiliki nilai nilai estetika. Hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya jurus bela diri yang ditampilkan bajidor saat pagelaran bajidoran. Tak hanya itu, Abah Enjoem berpendapat, bajidoran bukan hanya sekadar memiliki nilai hiburan, namun juga memupuk rasa hormat, silaturahmi, dan kekeluargaan antara bajidor satu dan bajidor lainnya.

Penulis   : Jaka Kusumah
NIM       : 18123022
Sumber  : Skripsi Junengsih thn 1997

Minggu, 12 Mei 2019

Kesenian Goong Renteng


Goong Renteng Embah Baandong

Goong renteng Embah Bandong adalah salah satu jenis gamelan khas masyarakat Sunda yang berusia sudah cukup tua, kesenian ini berasal darai desa Banjaran. Mengapa dikatakan Banjaran?  Karena , kesenian ini berada disitus perbatasan antara desa Batukarut dan Lebakwangi  kecamatan  Arjasari, kabupaten Bandung, sehingga sering disebut Desa Banjaran. Menurut wawancara saya dengan Mayang  A. Nurzaini bahwa ia telah melakukan wawancara langsung dengan salah seorang pengurus (Pupuhu/ketua) Sasaka Waruga Pusaka, yaitu Bapak H. Wawan. Menurut sejarah, dahulu ada seorang yang bernama Embah Manggung Dikusuma ia adalah seseorang yang haus ilmu-ilmu gaib, kemudian datang ke Desa Batukarut-Lebakwangi dan berguru kepada Embah Panggung sehingga dapat mengalahkan para kesatria yang ada didesa tersebut. Setelah itu Embah Manggung meminta izin kepada gurunya untuk pulang karena, ia belum meminta izin kepada orangtuanya untuk mengatakan bahwa ia betah didesa tersebut dan akan kembali lagi. Singkat cerita, setalah ia diizinkan untuk kembali dari Bandung ia membawa seperangkat goong renteng ke Desa Lebakwangi. Walaupun cerita ini belum diketahui kebenarannya tetapi cerita ini sudah adaa sejak dahulu dan dipercaya oleh masyarakat.

Goong renteng  adalah gabungan dari kata “goong” merupakan bahasaa Sunda kuno yang berarti gamelan dan “renteng”  berkaitan dengan penempatan penclon-penclon kolenang (bonang), yang diletakkan secara berderet/berjajar atau ngerenteng dalam Bahasa Sunda. Perangkat goong renteng terdiri dari beberapa waditra yaitu; bonang, saron, kecrek, beri, kempul dan goong. Dalam pertunjukan tertentu kadang juga dapat menggunakan  waditra kendang. Uniknya, untuk mendapatkan suara yang yang pas kesenian ini harus proses pelarasan terlebih dahulu menggunakan tanah liat yang ditekan-tekan menggunakan panakol kemudian dipukul-pukul untuk mengetahui suaranya sudah surup atau belum. Tanah liat digunakan untuk menutupi lubang-lubang kecil yang terdapat di penclon goong renteng yang berbahan dasar besi. Setelah itu, wilahan penclon disusun pada ancak yang sudah didasari oleh daun pisang manggala dengan tujuan agar suaranya lebih enak didengar. Setelah itu sebelum dimaikan goong renteng diberi olesan minyak dan ditaburi daun kering sebelum ditabuh, perawatan ini sudah dipercaya turun-temurun sejak dahulu.

Kemudian lagu-lagu yang dibawakan ada empat belas buah yaitu;
1.      Ganggong : Menceritakan keadaan jaman yang seisinya besar, serba luas.
2.      Gonjing Patala : Menceritakan gempa vulkanik ketika gunung sunda meletus.
3.      Pangkur : Menceritakan setelah gunung sunda meletus.
4.      Galumpit naek angina-angin : Menceritakan permukaan tanah bagian selatan gunung sunda retak bahkan amblas.
5.      Maleber : Menceritakan permukaan tanah acak-acakan amblas kea rah utara dan selatan sehingga terbentk gunung Malabar.
6.      Papadanan : Menceritakan bagian tahan yang amblas menjadi talagahiang.
7.      Bango Cocong (Pucung Lingkup) : V hewan-hewan yang hidup di talagahiang saat itu.
8.      Magatruk : Menceritakan ayah dan  anak yang sedang bingung memikirkan hal ilmu yang diterima dari wangsit.
9.      Asmarandana : Menceritakan ayah dan anak yang sedang ganderung oleh ilmu.
10.  Bujang Anom : Menceritakan pemuda ahli bertapa dating ke wilayah Tanjungwangi/Batukarut-Lebakwangi
11.  Joher (Galatik Nunut) : Menceritakan mengenai ilmu berupa sumber segalanya/cahaya dari sumber cahaya.
12.  Boyong : Menceritakan berhasilnya kebandangan/keboyongan/terbawa oleh ilmu yang dimaksud.
13.  Sodor : Menceritakan pemuda ahli bertapa menyampaikan hal ilmu yang didapaatkannya kepada sang ayah dan anak.
14.  Seseregan : Menceritakan rasa bahagia meraih ilmu yang diharapkan.
hagia meraih ilmu yang diharapkan.

Kesenian ini biasanya ditampilkan setahun satu kali pada saat 12 Rabiul awal pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW didesa Batukarut-Lebakwangi. Masyarakat sekitar menggunakan kesenian ini untuk ngerumat atau biasa dikenal sebagai kegiatan ngeruat. Hal ini bertujuan untuk  mensucikan dan membersihkan benda-benda pusaka yang disimpan rapih disitus Bumi Alit Kabuyutan yang berada dibawah pengolahan organisasi Sasaka Waruga Pusaka. Sebelum kegiatan ngarumat berlangsung seperangkat gamelan itu dibersihkan terlebih dahulu baru ditabuh karena, hanya pada kegiatan ngerumat-lah alat itu dapat dimainkan.
Prosesi tersebut dimulai sejak pagi oleh para sesepuh yang diawali dengan membersihkan barang-barang pusaka yang disimpan Bumi Alit Kabuyutan, setelah itu dilanjutkan ngerumat goong renteng dipinggiri pendopo Bumi Alit Kabuyutan. Beberapa sesepuh lainnya membersihkan perangkat goong renteng berupa penclon-pencelonkecil menggunakan air dari beberapa sumur yang berbeda, jeruk nipis, tebu, dan honje untuk menghilangkan karat pada barang-barang pusaka dan goong renteng itu sendiri. Setelah itu dikeringkan menggunakan kain berwarna putih lalu ditaburi sejenis bubuk daun kering dan diberi minyak wangi kemudian, dibawa ke pendopo untuk dilaraskan terlebih dahulu.
Uniknya menurut informasi yang saya dapatkan pada saat prosesi ngerumat dilaksanakan banyak anak-anak yang berada dikolong tempat pelaksanaan berlangsung dan banyak warga yang berdatangan untuk meminta air bekas cucian benda pusaka kemudian dimasukan kebotol air mineral atau ember yang mereka bawa dari rumah masing-masing konon katanya jika air yang mereka dapatkan digunakan untuk cuci muka atau mandi maka air tersebut dappat menambah kecerdasan, mudah mendapat jodoh dan membuat tanah menjadi subur.

Penulis : Asih Trilestari
Nim      : 18123015

Sumber : - wawancara dengan Mayang Amalia Nurzaini (mahasiswa ISBI Bandung smt VI)
   -Buku Deskripsi Kesenian Jawa Barat



Sabtu, 11 Mei 2019

Kesenian Pantun

Kesenian pantun

Latar belakangnya mulai menyukai kesenian pantun ini sejak kelas 2 SMK dikarnakan sudah banyak orang yang tidak mengetahui apa itu kesenian pantun dan tidak ada generasi-generasi muda yang mengembangkan kesenian tersebut akhirnya kang Rizal berkecimbung di dunia kesenian pantun tersebut untuk mengembangkannya dan memperkenalkan kesenian tersebut kepada orang-orang disekitarnya agar kesenian pantun tersebut tidak musnah.

SEJARAH PANTUN

Menurut buku dari UNPAD. Adanya sejak jaman kerajaan padjajaran dan jayanya sejak tahun 1333 Masehi sampai 1579 Masehi. Dulu yang terkenal yaitu cerita Ciuang wanara , Munding laya .
Menurut Mang Ayi seniman pantun dari Subang.sejak jaman kerajaan padjajaran namun kesenian tersebut dulunya tidak memakai alat usik apapun melainkan pakai mulut saja menceritakan pantunnya tidak seperti sekarang memakai kecapi. Pemantun sejak jaman kerajaan padjajaran yaitu Raden Kuncung Aradillah dan partnernya aki Darmawalet.
Kata mang Ayi sejak dulu itu pantun digunaan untuk menyampaikan amanat –amanat raja kepada masyarakatnya contohnya apabila ada berita masyarakat dikasih taunya lewat pantun ini dan ada juga yang menyebutkan kegunaan pantun itu sebagai penghibur raja dan anak-anak raja dahulu.
Juru-juru pantun dahulu yang terkenal yaitu Dasasmita dari kanekes banten dan sirodi tahun 1966.

PERKEMBANGAN PANTUN DAHULU SAMPAI SEKARANG

Kesenian pantun ini sangat sakral sekali dan tidak memakai alat music apapun melainkan kita berpantun saja dan tidak bisa bermain begitu saja tetapi apabila ada acara  syukuran hajat bumi atau bisa dibilang dengan ruwatan contohnya syukuran ganti nama gedung.
Dari jaman-kejaman para pemantun terdahulu masih saja memakai kecapi ,pemantun dan partnernya semua cerita disampaikan oleh sipemantun tersebut sedangkan sekarang banyak kemajuan jaman sekarang memaikai sinden ,rebab,dan celempung jadi tidak semuanya dibawakan oleh sipemantun tersebut tetapi tidak menghilangkan cirikhas aslinya
Jaman sekarang kesenian pantun ini khusunya subang dan sumedang masih dipakai sebagai ritual syukuran hajat bumi dan lainnya tapi sisi lain sering dipakai sebagai hiburan untuk memperkenalkan kesenian pantun kepada masyarakat dan orang-orang yang belum tau apa itu seni pantun dan mengembangkannya kembali agar tidak musnah  dan sampai sekarang kesenian ini hanya memakai kecapi saja.

MAKNANYA

Didalam kesenian tersebut ada tataanya terdabat struktur yang teratur dari mulai rajah yang berisi seperti tawasul meminta ijin kepada  yang masih ada ataupun yang sudah tidak ada dan meminta izin kepada  tuhan selanjutnya rajah pamuna untuk menetapkannya dan dilanjutkan oleh kidung atau lagu kembang gadung dari situ lanjut ke patwa,bisa disebut dengan kakawen (mangkatan carita) jadi sebelum bercerita ada yang disebut dengan kakawen yaitu menggambarkan isi cerita tersebut dan sesudah itu baru isi cerita oleh sipemantun dan yang terakhir ada rajah panutup .
Pelajaran yang bisa diambil dari kesenian pantun ini yaitu ungkapan rasa sujud syukur  atas apa yang tuhan kehendaki.
Ada pribahasa “Pantunmah moal katimu ku ratu ku jaksa moal kabuka ku panitah moal kapanggih iwal kacatur ku juru pantun” yang artinya tidak ada lirik atau catatan apapun yang berarti bercerita keluar sendirinya oleh sipemantun tersebut dan tidak memakai lirik ataupun buku catatan. Contohnya ada satu kejadian diceritakan dan kemudian dipantukan untuk menyampaikan kepada masyarakat-masyarakatnya dan sampai sekarang memang tidk ada penulisnya sama sekali . kelengkapan saat memantun biasanya suka memaikai sesajen dilihat dari sisi pertunjukan itu hanya sebagai property untuk membuat suasasana lebih nyeni , tapi apabila dilihat dari sisi ritual itu dipakai untuk mengungkapkan rasa menghargai pada leluhur kita yang sudah tiada yang menyiptakannya.

Penulis      : Lhatifah Shafiyyah
Nim          : 18123006
SUMBER : Rizal Maulana mahasiswa ISBI Bandung

Sekian dari saya semoga ilmunya bermanfaat untuk kalian .Terimakasih J

Rabu, 08 Mei 2019

Kesenian Sisingaan



Kesenian Sisingaan merupakan bentuk ungkapan rasa ketidakpuasan, ketidaksenangan atau upaya pemberontakan dari masyarakat Subang kepada pihak penjajah. Perwujudan dari rasa ketidaksenangan tersebut digambarkan dalam bentuk sepasang sisingaan, yaitu melambangkan kaum penjajah Belanda dan Inggris. Kedua Negara penjajah tersebut menindas masyarakat Subang, yang dianggap bodoh dan dalam kondisi miskin, sehingga para seniman berharap suatu saat nanti generasi muda harus bisa bangkit, mengusir penjajah dari tanah air dan masyarakat bisa menikmati kehidupan yang sejahtera.

Kesenian sisingaan juga merupakan kesenian tradisional masyarakat Subang yang bersifat helaran dan bentuk arak-arakan, pada waktu khitanan. Namun pada masa sekarang kesenian sisingaan digunakan pula pada acara-acara khusus, seperti penyambutan tamu, hari-hari besar nasional, ulang tahun lembaga atau daerah. Dalam kesenian ini terdapat unsur seni tari, seni karawitan, seni sastra dan seni rupa.

Istilah sisingaan itu sendiri diambil dari kata singa, Meskipun binatang singa tidak terdapat di daerah sunda, tetapi kata singa sudah dikenal oleh masyarakat sunda. Hal ini dapat ditelusuri dari beberapa nama yang menggunakan kata singa, seperti: Singapura dan Jasinga yang sekarang merupakan nama tempat yang terdapat di Jawa Barat. Kemudian nama kereta Singa Barong yang sekarang merupakan peninggalan dari keraton kasepuhan Cirebon.

Ada beberapa istilah lain yang digunakan masyarakat Subang untuk kesenian sisingaan, jauh sebelum para perumus membakukan istilah yang disepakati pada pertemuan seminar pada tahun 1988. Istilah-istilah yang dimaksud antara lain: Pergosi (Persatuan Gotong Singa), Odong-Odong (Alat usungan), dan Singa Depok (mengambil istilah dari gerakan pengusung sisingaan, yaitu melakukan gerakan depok yang mengandung pengertian duduk). Sampai saat ini, kesenian sisingaan sebagai hasil perumusan seminar masih tetap dipakai masyarakat Subang. Sementara istilah-istilah lain dari luar istilah kesenian sisingaan masih dipakai di daerah tertentu saja. 


Sejarah Sisingaan

            Sejarah asal-usul Sisingaan mulai muncul pada saat kaum penjajah menguasai Subang. Yakni pada masa pemerintahan Belanda tahun 1812. Kabupaten Subang pada saat itu dikenal dengan Doble Bestur, dan dijadikan kawasan perkebunan di bawah perusahaan P&T Lands (Pamanoekan en Tjiasemlanden).

Pada saat Subang di bawah kekuasaan Belanda, masyarakat setempat mulai diperkenalkan dengan lambang Negara Belanda yakni Crown atau mahkota kerajaan. Dalam waktu yang bersamaan daerah Subang juga di bawah kekuasaan Inggris, yang memperkenalkan lambang negaranya yakni singa. Sehingga secara administratif daerah  Subang terbagi menjadi dua bagian, yakni secara politis dikuasai Belanda dan secara ekonomi dikuasai oleh Inggris.

Masyarakat Subang saat itu mendapatkan tekanan secara politis, ekonomis, social, dan budaya dari pihak Belanda maupun Inggris. Namun masyarakat tidak tinggal diam, mereka melakukan perlawanan, perlawanan tersebut tidak hanya berupa perlawanan fisik, namun juga perlawanan yang diwujudkan dalam bentuk kesenian. Bentuk kesenian tersebut mengandung Silib (yakni pembicaraan yang tidak langsung pada maksud dan tujuan), Sindir (ironi atau sesuatu yang bertentangan dengan kenyataan), Siloka (kiasan atau melambangkan), Sasmita (contoh cerita yang mengandung arti atau makna).

Dengan demikian masyarakat Subang bias mengekspresikan atau mewujudkan perasaan mereka secara terselubung. Melalui sindiran, perumpamaan yang terjadi atau yang menjadi kenyataan pada saat itu. Salah satu perwujudan atau bentuk ekspresi masyarakat Subang, dengan menciptakan salah satu bentuk kesenian yang kemudian dikenal dengan nama Sisingaan.

            Musik pengiring sisingaan pada awalnya cukup sederhana, antaralain kendang indung (2 buah), kulanter, boning (ketuk), tarompet, goong, kempul, kecrek. Karena sisingaan merupakan pertunjukan helaran, music pengiringnya dimainkan sambil berdiri, digotong dan diikatkan pada tubuh penabuhnya. Dalam perkembangan sisingaan selanjutnya, disertakan pula juru kawih dengan lagu-lagu, baik vocal maupun instrumental, antara lain lagu keringan, lagu kidung, lagu titipatipa, lagu gondang, lagu kasreng, lagu-lagu selingan (siyur, tepang sono, awet rajet, serat salira, madu dan racun, pria idaman, goyang dombret, waru doyong dan lain-lain), lagu gurudugan, lagu mapay roko atau marsan (sebagai lagu penutup). Lagu-lagu dalam sisingaan tersebut diambil dari lagu-lagu kesenian ketuk tilu, doger dan kliningan.

Ada beberapa makna yang terkandung dalam seni pertunjukan sisingaan, antara lain: Makna sosial,masyarakat Subang percaya bahwa jiwa kesenian rakyat sangat berperan dalam diri mereka, seperti egaliter, sponta, dan rasa memiliki terhadap setiap setiap jenis seni rakyat yang muncul. Makna treaktikal, karena jika dikaji dari penampilannya sisingaan ini, tak diragukan lagi, sangat teatrikal, apalagi setelah berbagai variasi ditambahkan, seperti jajangkungan dan lain-lain. Makna komersial, Karena sisingaan mampu meningkatkan kesejahteraan mereka, maka munculah puluhan bahkan ratusan kelompok sisingaan dari berbagai desa untuk ikut serta dalam festival. Mereka melihat hal ini, karena pemenang festival akan mendapatkan peluang bisnis yang menggiurkan, sama halnya dengaan seni Bajidoran . Makna universal, Karena di setiap etnik dan bangsa seringkali seringkali di jumpai pemujaan terhadap binatang singa (terutama Eropa dan Afrika). Meskipun di Jawa barat tidak terdapat habitat singa, Namun dengan konsep kerakyatan, dapat saja singa muncul bukan dihabitatnya namun diterima sebagai miliknya. Ini terbukti pada kasus sisingaan. dan makna spiritual, karena sisingaan dipercayai oleh masyarakatnya (penanggapnya atau penyelenggara­) untuk memperoleh keselamatan (salametan) atau syukuran.


Penulis  : Rere Lailatus Sholiha
Nim      : 18123027
Sumber : 1. Perpustakaan ISBI Bandung :Skripsi Nunung Haryana (STSI 1998) Tarompet Sisingaan ( Suatu Tinjauan Deskriptif ), Dalam buku berjudul Desikripsi Kesenian Jawa Barat ( Ganjar & Arthur S.Nalan ).
Dokumentasi : Mochammad Viqie.

Sabtu, 04 Mei 2019

Kesenian Ronggeng Gunung

KESENIAN TRAGIS DARI CIAMIS
“ RONGGENG GUNUNG “



            Seperti yang telah dituliskan dalam judul, kesenian Ronggeng Gunung merupakan kesenian yang berasal dari kabupaten Ciamis. Tepatnya dari daerah Panyutran, Banjarsari, Munjul dan setelah adanya pemekaran dari kabupaten Ciamis yaitu adanya kabupaten Pangandaran pada 25 Oktober 2012 kesenian Ronggeng Gunung pun ikut menjadi kesenian dari kabupaten Pangandaran yaitu tepatnya daerah Cijulang.

            Ronggeng Gunung ada sejak tahun 1940-1950an. Seperti pada kesenian Ronggeng pada umumnya yaitu adanya Ronggeng atau penari Pperempuan yang menjadi ciri dari kesenian ini. Namun tahukah anda apa yang membedakan Ronggeng Gunung dari Ronggeng yang lainya ?. kesenian Ronggeng Gunung mumpunyai ciri khas yang tidak dimiliki oleh kesenian Ronggeng pada umunya. Diantara ciri khas dan pembeda dari kesenian Ronggeng ini yaitu terletak pada unsur penyajian dan garapanya yaitu erat kaitanya dengan unsur-unsur mistis. Diantara unsur mistis tersebut yaitu sebelum pergelaran Ronggeng Gunung dimulai maka harus diadakan sesajen yang mana isi dari sesajen tersebut adalah kue kering 7 macam dan 7 warna, pisang emas, sebuah cermin, sisir, dan sebatang rokok.

            Kesenian ini tidak terlalu berkembang dikarenakan banyak kesenian-kesenian dari luar yang masuk ke dalam negeri khususnya kesenian Sandiwara / Teater dan film. Namun pada saat perkembanganya ini, kesenian Ronggeng Gunung dicampuru oleh hal-hal yang tidak senonoh diantaranya seperti sang penari di pegang-pegang tangan, dicium, serta diraba oleh penari-penari laki-laki. Itu membuat seni Ronggeng Gunung ini akhirnya dilarang untuk ditampilkan pada tahun 1948. Namun pada tahun 1945 kesenian ini hidup lagi dengan adanya peraturan-peraturan baru diantaranya seperti tidak boleh bersentuhan antara penari perempuan dan penari laki-laki hal ini supaya meminimalisir hal-hal negatif.

            Terbentuknya kesenian ini yaitu menurut keterangan dari Latif Adiwidjaja, seorang budayawan Ciamis, bahwa pada zaman dahulu, di ujung Pananjung berdiri sebuah kerajaan yang dipimpin seorang raja bernama Raden Anggalarang. Istri sang raja bernama Dewi Siti Samboja, yang disebut juga Dewi Rengganis. Namun kerajaan Galuh ini diserah tahtakan kepada ayah dari Dewi Siti Samboja. Pada suatu ketika terjadi kekacauan di kerajaan Galuh tersebut yang mengakibatkan suami dari Dewi Siti Samboja yaitu Raden Anggalarang ini terbunuh. Setelah itu datanglah Raden Sawung Galing datang menyelamatkan kerajaan tersebut. Sebagai tanda terimakasih  ayah dari Dewi Siti Samboja ( Raja Galuh) menikahkan putrinya yaitu Dewi Siti Samboja dengan Raden Anggalarang. Setelah sekian lama setelah mereka menikah maka diserah tahtakan kerajaan Galuh Kepada Raden Sawung Galing. Melihat seluruh isi kerajaan masih berduka dengan kepergian Raden Anggalarang maka, Raden Sawung Galing menciptakan tarian untuk menghibur seluruh penghuni dari kerajaan Galuh dengan penari-penarinya dipilih yang pandai menari bersuara bagus dan cantik.

            Isi dari pergelaran dari Ronggeng gunung ini yaitu menceritakan kesedihan Dewi Siti Samboja ditinggal sang suami, dan merupakan upaya untuk balas dendam kepada sang pembunuh suaminya. Ada juga yang menceritakan bahwa kesenian Ronggeng Gunung ini melambangkan kegiatan bertani Dewi Sri ( merupakan dewi padi menurut kepercayaan orang Sunda ).  Namun setelah perkembangan zaman kesenian ini tidak hanya untuk wilayah kerajaan saja tetapi mulai terbuka untuk dijadikan hiburan umum diantaranya sebagai hiburan pada pernikahan, Khitanan, pada panen raya dan sebagai pengantar upacara-upacara adat.

            Terdapat 6 sampai 10 orang pada setiap kelompok kesenian ronggeng Guning, namun terkadang pemainya bukan pemain tetap dari kelompok tersebut melaikan mengambil dari kelompok lain, diantaranya yaitu meminjam Sinden ( lulugu ) karena untuk menjadi sinden pada kesenian ini harus merupakan orang yang sudah berumur agak lanjut. Diatara sinden-sinden dari Ronggeng Gunung yang populer adalah Bi Raspi, beliau lahir di dusun Karang Gowok, Kabupaten Ciamis. Beliau mulai menggeluti dunia Ronggeng Gunung sejak 1972.

            Pada kesenian Ronggeng gunung tidak terlepas dari unsur pengiring atau alat musik untuk mengiringi kesenian ini diantara alat musiknya yaitu ketuk, goong dan kendang. Namun ada juga yang memakai satu set gamelan.

Diantara grup kesenian yang masih eksis diantaranya :

1. Panggugah Rasa ( pimpinan Bi Raspi )
2. Campaka Mekar
3.  Wirahma Laputra 2

Namun sangat disayangkan, kian hari Kesenian Ronggeng emakin sulit dijumpai dikarenakan kurang adanya dukungan dari pemerintah daerah mengenai kesenian ini, serta peminat dari kesenian Ronggeng Gunung ini semakin lama semakin menyusut.

SUMBER REFERENSI

Buku

1. Adeng et al. 2011. “Sejarah Ronggeng Gunung”. Bandung : BPNB Bandung.
2. Depdikbud Kabupaten Ciamis. 1998. “Pangandaran dan Ronggeng Gunung”. Ciamis : Seksi Kebudayaan Depdikbud Ciamis.

Jurnal dan Skripsi

1. Herawati, Yanti. 2005. “Ronggeng Gunung Ritual dan Spirit yang Menjadi Liminal” dalam jurnal panggung XXVIII.
2, Yuniawati, Yayu. 2009. “Perjalanan Ronggeng Gunung di Ciamis” Skripsi Bandung. FPBS UPI.

Dokumentasi Foto

1. Radiansyah Luthfi Fauzi. 5 Oktober 2019. Lokasi ISBI Bandung.

Penulis : Rizki Syaepul Nuhyidin
NIm     : 18123035

Wayang Golek Jawa Barat


WAYANG GOLEK

Sumber : Romansyah

           Wayang Golek merupakan salah satu jenis kesenian peninggalan masalalu yang hingga kini masih hidup dan mendapat dukungan sebagian masyarakat. Berbagai jenis wayang tersebar ditengah masyarakat tetapi sebagian besar diantaranya sudah punah. Jenis wayang yg masih dikenal namanya dan  Tentang kehadiraan wayang di Nusantara, para ahli dari berbagai latar belakang keilmuan memperkirakan asal-muasal wayang yg berbeda sambil mengajukan sejumlah bukti untuk mendukung pemikiran nya.

            Wayang Golek, seperti jenis wayang lainnya, adalah alat komunikasi pandang-dengar, yang telah akrab sejak lama dengan audiensnya. Aneka tuntunan dikemas dengan tuturan dalang. Semuanya jenis wayang, sejak awal, berfungsi sebagai wahana penyampaian tuntunan disamping  sebagai tontonan. Karena itu, audiens pertunjukan wayang golek bisa menikmati dua sajian yg berupa nilai-nilai dan hibuan.

            Sikap kepala, warna wajah, pola garis alis, pola mata, pola hidung, pola garis kumis, dan pola mulu, pada dasar nya menunjukan watak dan ciri golongan golek tertent.  Lebih khusus lagi, watak dan ciri golongan golek tadi ditampil kan dalam bentuk keutuhan rautnya.

Jenis Wayang Berdasarkan Cerita

          Cerita yg digunakan dalam pementasan wayang sangat beragam. Lakon wayang yg biasa dan sudah lebih dikenal masyarakat banyak adalah Mahabarata dan Ramayana.

Jenis Wayang Berdasarkan Cara Pementasan

          Cara pementasan wayang secara langsung berkait dengan bentuk wayang. Pengelompokan jenis wayang berdasarkan cara mempertunjukan nya ini bisa diperikasa kembali dari sejarah pertumbuhan wayang. Pada awalnya, wayang adalah berfungsi sebagai alat “penghadiran kembali”.

          Pementasan wayang pada mula nya hanya dilakukan maalam hari. Hal ini berkaitan dengan sifat pementasan wayang yg menitik beratkan tampilan bayangan pada kelir. Baru pada awal abad ke-16, pertunjukan di ada kan pula pada siang hari. Wayang yg dipertontonkan berbeda. Wayang jenis ini memiliki bentuk trimatra, berupa boneka kayu, yg disebut wayang golek.

            Cerita wayang dapat menyampaikan informasi apa saja, baik ajaran moral maupun kebijakan pemerintah , program-program yg dapat diselipkan melalui pertunjukan wayang di antaranya kebersihan lingkungan. Walau pun   ada beberapa keterbatasan wayang sebagai media komunikasi tradisional dalam seminasi informasi.

Penulis : Anita Nur Rahmania
Nim     : 18123028